Monday, May 3, 2010

believe with love bab 2

Kebiasaan buruk hari ini akan terus terjadi pada keluarga Hanggono di setiap pagi hari tentunya. Sasa berlari menuruni tangga seraya memakai seragam sekolah dengan tas ransel kebanggannya yang selalu menemaninya beberapa tahun ini di sekolahnya. Ayah yang duduk di meja makan sambil membaca koran terheran-heran melihat anaknya terburu-buru seperti ini.
"Kamu terburu-buru sekali, memangnya ada apa sih? "
"Sasa udah telat ayah untuk masuk sekolah, aku kesiangan, aku berangkat dulu yah" seraya mencium pipi ayah.
Baru Sasa berlari, Ayah memanggil Sasa kembali.
"Ayah, aku udah telat banget nich, kalau mau ngomong nanti aja ya. Maaf banget yah"
"Memangnya, hari Minggu kaya gini sekolah kamu ngadain acara apa? Memang resmi sekali ya, sampai-sampai kamu harus mengenakan baju seragam"
Mata Sasa berubah membulat "Hari Minggu? "ucapnya tak percaya
Ayah mengangguk seraya menyeruput kopi yang ada dihadapannya. Wajah Sasa berubah menjadi lemas. Ia berjalan menuju makan, Sasa mengambil roti tawar yang belum diolesi selai dan memasukkannya kemulutnya hingga lahap.
Ayah tertawa kecil "Itu pelajaran buat kamu jangan suka bangun kesiangan dan jangan lupa lihat tanggal dan hari biar gak lupa"
Sasa memajukan bibirnya "Ayah, bisa aja deh"
Ayah pun tertawa kembali mendengar ucapan Sasa. Semenjak setahun lalu saat kematian ibunya Sasa, ayah merasa sangat sendirian. ayah ja
"Aku pikir hari Senin, makanya aku terburu-buru" Sasa menghembuskan nafas capek
Ayah tertawa kecil "Itu pelajaran kamu agar tidak bangun kesiangan lagi dan jangan lupa memasang kalender biar kamu tidak lupa hari"
Sasa memajukan bibirnya "Ngomong-ngomong, semenjak ibu gak ada, ayah udah gak pernah main golf lagi deh setiap hari Minggu"
Ayah menghembuskan nafasnya pelan "Ayah masih trauma. Ibumu meninggal saat ayah dan ibu selesai dari bermain golf
Sasa memegang tangan ayah erat "Ayah, gak bagus selalu menyalahkan diri ayah terus menerus. Kecelakaan waktu itu, memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan"
"Tetapi ayah masih menyayangi ibumu Sa"
"Aku ngerti ko apa yang ayah rasakan. Bukan ayah saja yang sayang sama ibu, Sasa dan Rino juga sayang sama ibu. Mungkin Tuhan lebih menyayangi ibu makanya Tuhan mengambil ibu ke sisi-Nya"
suasana hening sesaat. Kejadian itu terjadi 2tahun yang lalu saat Sasa masih duduk di bangku SMP kelas 3. Pada hari Minggu tepatnya, ayah dan ibu berencana untuk pergi bermain golf bersama dengan teman sekantor ayah.Entah apa yang ditakdirkan oleh Tuhan, sepulangnya mereka bermain golf ayah tidak bisa menahan kendali stirnya,saat melihat mobil barang berlawanan arah tiba-tiba ada dihadapannya. Ayah membanting stirnya ke arah kana, dan mobil ayah pun tertabrak pohon dengan sangat keras, yang mengakibatkan ibu mengalami gegar otak, dan ayah hanya luka ringan biasa. Semenjak kejadian itu, ayah jadi jarang keluar untuk bermain golf.
"kak Sasa" teriak Rino adik Sasa yang baru saja berumur 5tahun menghampiri Sasa "Kak Doni datang kak"
"Oh ya? MAna orangnya? Suruh dia masuk"
Doni berjalan menghampiri Sasa dan ayah. Senyum play boy ini tak akan pernah berubah di mata Sasa. Mana bisa dya mendapatkan senyuman cowok macam dya.
"Pagi oOm" sapa Doni ramah,ayah membalasnya dengan senyuman "kamu pakai seragam sekolah, memangnya mau kemana? "
Sasa tersenyum malu, belum Sasa ingin membuka mulutnya untuk berbicara, ayah sudah menceritakan terlebih dahulu kejadian yang sungguh memalukan menurutnya. Doni yang mendengar ceriya ayah juga ikut tertawa.
"Sudah dong ketawanya, aku malu nih"protes Sasa "Ngomong-ngomong ada angin apa nih kak Doni pagi-pagi begini udah dateng? "
"Begini oon, aku mau minta izin sama oom untuk mengajak Sasa jalan-jalan ke taman, apa boleh? "
"Boleh saja,Sasa kamu mau ajak kemanapun pasti dya mau asal sama kamu Don"
"ayah"
Ayah dan Doni pun tertawa. Rino yang berada di samping Doni menarik baju Doni "kak Doni, rino mau ikut "pintanya
"jangan Rino, rino temani ayah saja di rumah, nanti ayah gak punya temen kan"
"gak apa-apa sa, kamu ajak saja rino bersama kamu, ayah gak papa ko sendirian di rumah"
"ya sudahlah. Don, aku ganti baju dulu ya"

No comments:

Post a Comment